Welcome!!!! Welcome!!!

Minggu, 14 Oktober 2012

Transmisi Budaya Dan Biologis Serta Awal Pengasuhan


          Setiap individu manusia pasti di lahirkan dalam sebuah keluarga dan dalam keluarga tersebut pasti memiliki suatu budaya, kemudian individu tersebut tumbuh dan berkembang, dalam proses tumbu kembang indi vidu tersebut terjadilah suatu transmisi budaya dan biologis dimana ada peroses tersebut melibatkan penurunan faktor biologis dan nilai-nilai budaya baik dari orang tua, lingkungan dan sebagainya. dalam proses tersebut individu itu diasuh dan dididik akan nilai budaya yang ada di sekitarnya, sehingga dalam individu manusia itu juga tumbuh nilai budaya yang ia dapatkan. dimana nilai budaya yang diajarkan berkembang mulai dari hal sederhana seperti norma makan dengan tangan kanan hingga yang lebih kompleks. 
         Nilai budaya yang telah tertanam dalam seseorang tidak hanya sampai di situ, nilai budaya juga bisa terpengaruhi dari lingkungan atau orang lain (teman, guru, dll) yang juga bisa membuat transmisi budaya kepada orang tersebut sehingga nilai budaya yang ia miliki semakin berkembang. Berikut pengelompokan suatu transmisi budaya dari sumber berasalnya budaya yang di turunkan dan contohnya:

1. Transmisi Vertical
  • General Acculturation
         Transmisi budaya yang berasal dari orang yang lebih tua/orang tua kepada diri seseorang. Contoh : anak disiplin karena melihat orang tua yang disiplin.
  • Specific Sosialization     Transmisi budaya yang di turunkan dengan peristiwa sengaja, terarah, dan sistematis. Contoh : anak dididik untuk tidak membantah orang tua.
2. Oblique Transmision
         Transmisi Budaya yang berasal dari orang dewasa lain yang sama kebudayaannya dengan proses enkulturasi & sosialisasi, atau orang dewasa lain yang berkebudayaan lain dengan proses akulturasi dan resosialisation

3. Horizontal Transmision
             Transmisi budaya yang berasal dari teman sebaya atau kelompok yang memiliki kesamaan budaya ataupun berbeda.

Selain pengelompokan transmisiberdasarkan sumber, terdapat juga proses atau cara penurunan nilai budaya atau transmisi budaya sebagai berikut :

1. Enkulturasi
        Enkulturasi adalah proses penerusan kebudayaan dari generasi yang satu kepada generasi berikutnya selama hidup seseorang individu dimulai dari insttitusi keluarga terutama tokoh ibu. Enkulturasi mengacu pada proses dengan mana kultur (budaya) ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kita mempelajari kultur, bukan mewarisinya. Kultur ditransmisikan melalui proses belajar, bukan melalui gen. Orang tua, kelompok, teman, sekolah, lembaga keagamaan, dan lembaga pemerintahan merupakan guru-guru utama dibidang kultur. Enkulturasi terjadi melalui mereka.


2. Akulturasi

       Akulturasi mengacu pada proses dimana kultur seseorang dimodifikasi melalui kontak atau pemaparan langsung dengan kultur lain. Misalnya, bila sekelompok imigran kemudian berdiam di Amerika Serikat (kultur tuan rumah), kultur mereka sendiri akan dipengaruhi oleh kultur tuan rumah ini. Berangsur-angsur, nilai-nilai, cara berperilaku, serta kepercayaan dari kultur tuan rumah akan menjadi bagian dari kultur kelompok imigran itu. Pada waktu yang sama, kultur tuan rumah pun ikut berubah.

3. Sosialisasi
      Sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat. Sejumlah sosiolog menyebut sosialisasi sebagai teori mengenai peranan (role theory). Karena dalam proses sosialisasi diajarkan peran-peran yang harus dijalankan oleh individu.
Pengaruh enkulturasi terhadap perkembangan psikologi individu adalah perkembangan seseorang untuk tumbuh kembang dipengaruhi oleh proses kultur atau budaya yang di transmisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya dengan proses belajar.
Pengaruh akulturasi terhadap perkembangan psikologi individu adalah berubahnya kultur seseorang yang terjadi karena pengaruh asing. Hal itu terjadi karena adanya proses sosial dimana sesama manusia saling mempelajari kultur yang ada dalam lingkungan asing tersebut.
Pengaruh sosialisasi terhadap perkembangan psikologi individu adalah kehidupan seorang manusia yang terus berjalan mempengaruhi bagaimana proses penanaman kebiasaan dari satu generasi ke generasi berikutnya itu terjadi sehingga sosialisasi mempengaruhi peranan seorang individu dalam suatu kelompok masyarakat.

          Setelah melewati pengasuhan diatas maka seseorang akan dikatakan memiliki nilai budaya di dalam dirinya, dan setiap orang memiliki nilai budaya berbeda karena keragaman sumber budaya yang di turunkan kepadanya.

Daftar Pustaka
http://id.scribd.com/doc/68996864/TRANSMISI-BUDAYA
http://id.shvoong.com/law-and-politics/family-law/2245698-enkulturasi-dan-akulturasi/
http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi_antarbudaya#Enkulturasi
http://id.wikipedia.org/wiki/Sosialisasi

Minggu, 07 Oktober 2012

Perlunya Psikologi Lintas Budaya


             Psikologi Lintas Budaya (PLB) mungkin baru 100 tahun ini baru terdengar dan berkembang pesat, jika ditarik agak jauh kebelakang dengan mencermati fenomena sebelum lahirnya PLB yakni pada masa abad pertengahan (abad ke 15) dan ke 16, Masyarakat di Eropa yang menaruh perhatian pada nilai-nilai luhur kemanusiaan. Kebebasan (freedom), kesetaraan (equality) mengemuka di masa perahlian menuju pembaharuan (renaissance) terhadap sektor-sektor kehidupan. Keragaman (diversity) yang tampak dalam kehidupan masyarakat sehari-hari menjadi bagian yang tak terpisahkan dan merupakan isu penting pada menjelang masa renaissance tersebut.
            Sedangkan tumbuh-kembang PLB lebih tampak di Amerika Serikat sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di negara itu. Namun demikian, kita akan mudah menjumpai studi-studi tentang perbandingan antara orang Amerika dengan Jerman, dibandingkan studi mengenai orang Amerika keturuan Afrika dengan orang Amerika keturunan Asia. Hal ini dimungkinkan karena mereka berasumsi bahwa Amerika merupakan satu kesatuan budaya (homogen) yang dapat dibedakan dengan bangsa di negara-negara lainnya.
             Pada masa "European Enlightenment" atau era pencerahan bangsa Eropa (Jahoda & Krewer: hal. 8) di abad 17 hingga ke 19, sebagai kelanjutan masa renaissance, perkembangan peradaban manusia mulai berubah kearah yang lebih luhur dan manusiawi dalam menempatkan posisi serta harkat manusia dalam kehidupannya (from savage to the civilized state of human life). Oleh karena itu psikologi sangat bermanfaat untuk di terapkan di masyarakat.
        Menurut Lonner Brislin dan Thorndike, (1973), psikologi lintas budaya adalah kajian empirpik mengenai anggota berbagai kelompok budaya yang telah memiliki perbedaan pengalaman yang dapat membawa ke arah perbedaan perilaku yang diramalkan dengan signifikan.
         Dan psikologi lintas budaya menurut Segall, Dasen, dan Poortinga (1990) adalah kajian ilmiah mengenai perilaku manuasia dan penyebarannya, skaligus memperhitungkan cara perilaku itu dibentuk dan dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan sosial budaya. Definisi ini mengarahkan perhatian pada dua hal pokok yaitu keragaman perilaku manusia didunia dan kaitannya antara perilaku individu dengan konteks budaya.
           Menurut Triandis, Malpass, dan Davidson (1972) psikologi lintas budaya mencakup kajian suatu pokok persoalan yang bersumber dari dua budaya atau lebih, dengan menggunakan metode pengukuran yang ekuivalen, untuk menentukan batas-batas yang dapat menjadi pijakan teori psikologi umum dan jenis modifikasi teori yang diperlukan agar menjadi universal.
              Jadi psikolog lintas budaya mengkaji tentang perilaku individu budaya, yang mungkin dapat berubah dan berbeda karena perbedaan pengalaman yang di dapatkan individu tersebut, sehingga muncul pola prilaku yang beraneka ragam.
             
Hubungan Psikologi Lintas Budaya(PLB) dan cabang ilmu lainnya.
           Dibawah ini merupakan beberapa contoh hubungan dari ilmu psikologi lintas budaya dengan cabang ilmu lainnya, karena saling keterkaitannya 1 sama lain :

  • Psikologi lintas budaya dengan Sosiologi
         Kedua ilmu ini saling keterkaitan karena objek material yang di kaji adalah manusia, dan hubungannya adalah sosiologi mengkaji bagai mana manusia saling berhubungan, dan psikologi lintas budaya mengkaji prilaku dari segi budaya, sehingga kedua ilmu tersebut dapat berdampingan bagai mana individu yang memiliki budaya sehingga memiliki perilaku tertentu berinteraksi dengan individu yang berbeda budaya.
  • Psikologi lintas budaya dengan Psikologi klinis        Mungkin keduanya dari cabang ilmu yang sama akan tetapi penekanan berbeda, selain hubungan dari akar ilmu yang sama, keduanya jg saling keterkaitan, karena seorang psikolog klinis akan berhubungan dengan klien yang berbeda budaya dan menghasilkan prilaku budaya, karena setiap orang pasti masih memegang kebudayaan masing-masing, untuk itu seorang psikolog klinis juga harus mampu memperlakukan dan berkomunikasi dengan baik, tanpa merendahkan atau menyinggung nilai budaya klien dan dirinya.
  • Psikologi lintas budaya dengan Psikologi konsumen
           Kali ini pun sama, psikologi konsumen yang berasal dari cabang ilmu psikologi, juga memiliki kaitannya dengan litas budaya, misalkan dalam psikologi konsumen juga mempelajari tentang prilaku tetapi diarahkan pada suatu kegiatan konsumsi, jadi karena semua manusia pasti melakukan konsumsi berarti beraneka ragam etnis juga melakukan kegiatan tersebut, akan tetapi mungkin perilaku yang di tunjukan berbeda terhadap barang konsumsi. oleh karena itu psikologi konsumen juga dapat di padukan dengan psikologi lintas budaya, misal dengan tujuan menguji perilaku yang timbul dari masyarakat etnis tertentu terhadap suatu barang konsumsi.
              Mungkin masih banyak cabang ilmu yang memiliki hubungan dengan psikologi lintas budaya, apalagi bila suatu cabang tersebut mengkaji perilaku atau budaya, ataupun menerapkan teori psikologi lintas budaya kedalam pengujian teori suatu ilmu lainnya. Oleh karena itu Psikologi industri mulai berkembang dan di terapkan.






Daftar Pustaka

         http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._GEOGRAFI/197210242001121-BAGJA_WALUYA/PIS/Konsep_Dasar_Psikologi.pdf
        http://www.psychologymania.com/2011/09/mazhab-dan-aliran-dalam-psikologi.html
        http://www.uin-malang.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=2558:psikologi-lintas-budaya&catid=35:artikel-dosen&Itemid=210